Rabu
02 Januari 2013
Menjelang
balik ke Jakarta, saat ini mungkin sekitar 3 jam sebelum keberangkatan. Rasanya
aku ingin menuangkan segala memoriku tentang apa saja yang aku lakukan selama
di Yogyakarta kedalam dokumen ini. Agar kelak aku bisa selalu mengenang dan
selalu ingat kepada semua yang ada disini, di Yogyakarta.
Hari
pertama aku datang, aku dijemput oleh le’ Darno paman cilekku. Dan pulang
dengan motornya yang kurasa kecepatannya selalu rata, yaitu 50 km/hour. Entah
waktu itu aku pikir le’ dah sering gini, atau akunya aja yang gk biasa karena di
Jakarta kemungkinan punya kecepatan segitu ya jarang because of MACET. Okelah
aku sampai dirumah sudah malam, tapi semua masih terbangun saat itu, kecuali
sepupuku Bagas. Sambutan hangat dari mereka, ya,,, karena aku sendiri sudah 5
tahun tak pernah kesini lagi. Padahal beberapa kesempatan yang lalu, aku sudah
2 kali mengunjungi Yogyakarta. Tetapi tak pernah berkunjung ke kampung sendiri.
Makanya kini ketika aku pulang, aku gk terlalu ingin jalan-jalan kemanapun,
tetapi aku ingin menikmati suasana tinggal di kampungku seakan-akan menetap
disini.
Hari
kedua, aku dibangunkan oleh nenekku, ia bangun begitu pagi, dan sambil bilang
kalau dia mau pergi ke masjid untuk salat subuh. Spontan diriku bilang aku mau
ikut. Langsung saja aku bergegas dan berangkat bersama nenekku. Selama
perjalanan dari rumah sampai masjid, banyak yang telah berubah. Diantaranya,
sekarang sudah ada jembatan yang terbuat dari bambu, ya mungkin nanti aku akan
ambil gambarnya ketika mau pulang. Masjid yang terlihat masih baru. Dan
ternyata memang masih baru, karena baru tanggal 20 Desember 2012, masjid ini
diresmikan, sebuah keberuntungan bisa salat disini. Banyak yang berbeda ya
setelah baru kali ini sempat untuk pulang. Lalu aku menunggu untuk salat subuh.
Selama menunggu, nampaknya ini yang menjadi perbedaan lagi antara Jakarta
dengan Yogya, yaitu tidak seperti di Jakarta yang setelah adzan berkumandang,
salat qobliyah, lalu langsung qomat. Kalau di Yogya, setelah adzan, salah
seorang solawat dulu atau melantunkan tembang untuk menunggu kedatangan jemaah
yang lain. Dari sini ada 2 kesimpulan yang mungkin bisa kuambil, pertama,
masjid didaerah ini tidak setiap berapa petak ada, jadi satu masjid itu
jangkauannya sangat luas, sehingga waktu perjalanan dari rumah ke masjid itu
cukup lama. Dan kedua, kalau ini menurutku, kurasa orang jawa itu sangat
menjiwai kebudayaannya, sehingga untuk mengajak orang berbuat sesuatu juga
salah satu caranya antara lain mengajak melalui budaya tersebut, seperti
melantunkan tembang, tetapi tembang-tembang yang islami.
Kemudian,
seharian ini aku selalu berada diruang tamu atau kamar sambil baca-baca buku
yang sudah aku beli sebelum pergi kesini untuk menemaniku selama liburan.
Beruntung si Bagas sudah lancar berbicara bahasa Indonesia, sehingga aku tidak
terlalu kesulitan untuk komunikasi dengan sepupuku sendiri J. Hanya membaca, menonton tv,
dan bermain bulu tangkis yang kulakukan hari ini.
Malamnya
aku pergi lagi ke masjid, dan kali ini aku kembali melihat perbedaan antara
kota dan kampong. Kalau disini mereka mudah sekali berkomunikasi antara satu
sama lain, mereka begitu hangat menerima kedatanganku. Serasa diri ini sudah
lama tinggal disini, tetapi kendalaku itu ialah tidak bisa berbahasa jawa,
sehingga sulit juga untuk komunikasi dengan mereka, dan hanya beberapa yang
bisa ku ajak bicara, itupun yang bisa berbicara dengan bahasa Indonesia.
Biarpun begitu, mungkin kalau aku tinggal disini, aku mungkin bisa kali yah
jadi satu diantara mereka, orang ramah nan sopan. Dan hari ini pula untuk kali
pertamanya aku menyaksikan wayang kulit beneran, bukan dari TV. Tapi sayangnya
gk bisa lama-lama karena udah ngantuk. L
Hari
ketiga, tidak terlalu berbeda dengan hari kedua, namun karena hari ini hari
Jumat, aku berangkat ke masjid siangnya, dan ketika melihat, aku sempat kaget,
ya karena yang datang ke masjid kurang dari 40, mungkin sekitar 20 orang saja.
Beruntung aku sudah pernah dibekali ilmu fiqih tentang jumlah salat jemaah
jumat yang boleh minimal 8 orang, sehingga aku tidak bersifat radikal perbuatan
maupun pikiran. Dan kurasa disini memang bukan penganut madzhab syafii, karena
dari salat subuh, tidak ada doa qunut, dan salat jumat tidak sampai 40 orang
jemaahnya. Tak apa, ini bisa dimaklumi, karena alasan perumahan yang jauh dan
jarang. Tapi seriusan, ini baru pengalaman pertamaku salat dengan kondisi
makmum yang sedikit. Dan dari sini pula, aku bersyukur banget sudah mempelajari
ilmu fiqih, ya walaupun masih cetek ilmunya. :D
Hari
keempat, tidak terlalu berbeda jauh, dengan hari hari sebelumnya dan kurasa
memang tak ada yang begitu berbeda. Tapi yang kutahu, hari ini budhe ku dari
Jakarta berangkat ke Yogyakarta sore hari.
Hari kelima, aku diajak oleh le’ Darno untuk pergi ke Pantai, dalam hatiku
sebenarnya tidak mau, tapi mungkin akan mengecewakan le’ kalau sampai menolak
ajakannya. Aku ikut ke rumah mertuanya le’ Darno. Rumahnya berada di
pegunungan, begitu ngerinya kalau sampai kena longsor pikirku saat itu.
Kemudian kami berangkat dengan keluarga adiknya le’ wiwik. Dengan naik mobil
kami menuju pantai glagak. Sesampainya disana, aku tidak bermain air, ya karena
aku ingin menikmati pemandangan dan suara ombaknya saja. Alasan kedua ya karena gk bawa baju ganti. Dan kurasa ini alasan
utama mengapa aku gk ikut main air J. Sesudah dari pantai, kami makan dan pulang.
Selama pulang, ada sesuatu yang begitu indah, BUKIT BERKABUT, iya bukit
berkabut putih sebagai penutup beberapa bagian kabut, begitu memikat hati ini
untuk mengambil gambar agar bisa kuabadikan. Karena gk punya kamera bagus, ya
aku ambil dari kamera HP yang setidaknya bisa kugunakan untuk mengambil gambar
tersebut. Setelah puas dengan pemandangan bukit berkabut, sawah, pantai, dan
padi. Padi? Ya sebelumnya aku berangkat, aku sempat ikut membantu nenekku,
merapikan padi untuk dijemur di pinggir jalan. Dari sini yang begitu memikat ya
tadi, sawah, bukit berkabut, padi, dan pantai. Semoga akan ku ingat momen tadi
walaupun sayangnya aku tak bisa mengabadikan gambar pantainya.
Hari
keenam, 31 Desember 2013. Aku habiskan waktuku untuk seperti biasa, dan kali
ini aku bisa merasakan jajanan bakso disini, karena lelah mencari tiket untuk
balik ke Jakarta. Selama perjalanan pulang setelah mencari tiket dan jajan, le’
Darno mengantarku ke suatu sungai dengan jembatan yang terlihat masih baru.
Kata le’, dulu disini sungainya kecil dan jembatannya gk sepanjang itu. Kenapa?
Karena waktu itu dia bilang sungai ini pernah jadi salah satu sungai yang
membawa lahar dingin merapi, sehingga kalinya membesar, dan jembatan yang lama
juga hancur, serta dulunya dipinggir jembatan yang lama ada rumah, namun
sekarang rumah tersebut mungkin sudah bergabung jadi partikel-partikel bersama
lahar dingin merapi yang telah menjadi bebatuan baru. Dahsyat bener ya merapi,
sampai bisa melakukan hal demikian, tapi gk Cuma kerugian aja yang
ditimbulkannya, kenapa? Karena setelah meletusnya merapi, banyak pekerjaan dan
material baru, seperti pasir yang melimpah. Ya memang alam ini mungkin tak akan
pernah terbaca maunya apa? Tapi kalau kita bisa pandai membaca sisi lainnya,
ternyata alam inginkan sesuatu yang lain agar semua system berjalan seimbang
dan sebagaimana mestinya.
Malamnya,
masjid dikampungku merencanakan akan membuat salawatan bersama untuk menutup
tahun 2012, aku bersama keluarga pergi ke masjid, semalaman kami berada disana
bersama masyarakat sekitar mendendangkan selawat. Begitu banyak makanan berat
yang disediakan disana. Aku sendiri bingung mau ngapain, mendengar tembang saja
aku gk ngerti, tapi aku cukup menikmati alunan nadanya, dan aku begitu menyukai
rasa kebersamaan disini. Tapi aku pulang duluan, sekitar jam 11 karena kurasa
nenekku sudah lelah. Jam 11 berikutnya, aku fokuskan untuk menulis saja.
Hari
ketujuh, kali ini aku begitu mengecewakan nenekku, karena gara-garaku yang
terlalu lama bersiap-siap ke masjid, sehingga nenek gk jadi pergi. Nenek Cuma
bilang dah telat kalau mau ke masjid, karena dah qomat, dan dia ngajakku untuk
salat bareng dirumah dengan senyumnya yang terlihat menutupi kesedihannya.
Begitu bodoh diri ini, padahal sudah bagus semangatnya yang tinggi, tapi kenapa
aku gk bantu mewujudkan keinginannya untuk lebih dekat dengan-Mu. Bodoh memang,
dan aku gk ingin ulangi itu lagi. Paginya, aku ngopi ditemani alunan radio,
sambil melihat pemandangan halaman rumah yang penuh dengan pepohonan rambutan,
singkong, salak dll, seakan-akan hutan, dan emang ini juga sekaligus kebun sih.
Setelah itu, aku liat nenek sedang siap untuk pergi, pas kutanya mau kemana,
ternyata dia mau ke kebun, dan tanpa pikir panjang, aku langsung meminta untuk
ikut dengannya. Penasaran dengan kebun, aku juga ingin mengabadikan
gambar-gambar kebun nenekku. Selama dikebun, nenekku memunguti biji melinjo
satu persatu, dan ini mungkin jelas kenapa nenek bisa begitu bongkok, ya karena
keseringan ngambil sesuatu dari kebun serta pulangnya saja bawa batang pohon
yang banyak dan ditarunya dibelakang badannya. Aku merasa malu kalau ngeliat
kerja kerasnya yang begitu kuat. Nenek moga aku bisa jadi sepertimu :’( PUNYA
SEMANGAT UNTUK HIDUP, BERAGAMA, dan MEMBANGUN HUBUNGAN KELUARGA, MASYARAKAT
dengan HARMONIS. AAMIIN.
Siangnya
aku pergi lagi ke pasar bareng budhe, untuk mencari oleh-oleh, dan terlihat
banget bahwa hati dan pikiranku masih kotor, karena sering beranggapan buruk
kepada orang-orang yang baru, seperti pedagang, orang pinggir jalan, tukang
ojek. Padahal mereka memang benar memberikan petunjuknya. Dasar diri ini masih
terlalu banyak penyakit hati. L semoga bisa cepat kuperbaiki ya Allah, bantulah
aku.
Hari
kedelapan, salat subuh sekalian pamit sama guru tpa yang seringkali ngajak aku
ngobrol. Dan paginya aku hanya dirumah, beres-beres dan nulis sampai sekarang.
Dan aku menyadari memang banyak perkembangannya disini, seperti masjid, dan
KOMPOSTING, ini yang begitu mengagetkanku beberapa hari yang lalu, karena
dijawa ternyata sudah dipersiapkan banyak alat seperti alat untuk tetes
organik, dan lain-lain. Keren deh pokoknya, karena cepat sekali kemajuan
teknologi terapan disini. MANTAP DEH J.
Dan
semoga nanti aku bisa selamat selama perjalanan pulang aamiin.
Sejauh
ini yang ingin aku simpulkan, aku begitu menikmati rasa kebersamaan,
kekeluargaan disini. Ditambah kemajuan teknologi terapannya, makin menambah
nilai daerah ini. TOP deh. J
12:24
02 Desember 2013 Yogyakarta
Ari